Para Legioner selayaknya sangat menghargai medali ini, karena medali ini mempunyai hubungan yang erat dengan sejarah Legio Mariae sendiri. Dengan tidak sengaja dipersiapkan, patung model tahun 1830 ini menghiasi meja rapat yang pertama. Patung ini secara efektif melukiskan tampang devosi organisasi yang menjadi nyata dan hidup.

Sehingga kemudian para legioner diajurkan untuk memakai medali model ini jika mereka bekerja. Doa singkat yang tertera pada medali didoakan pada rapat pertama dan sekarang doa itu, yang merupakan bagian dari Katena, wajib didoakan setiap hari oleh semua anggota Legio Mariae. Gambar pada medali adalah sama seperti yang tertera pada pada Veksilum Legio Mariae.

Perlu kita pikirkan mengapa penghormatan pada medali dimasukkan dalam system Legio. Pertimbangan-pertimbangan berikut dapat menilai apakah hanya karena kebetulan saja atau karena Penyelenggaraan Ilahi (Providentia Dei), hal ini dapat terjadi.

Tujuan Medali Wasiat adalah untuk menunjukkan devosi kepada Maria Yang Dikandung Tanpa Noda. Disamping itu, Medali Wasiat juga menunjukkan peran Maria sebagai Pengantara Segala Rahmat. Jadi sekaligus ditunjukkan beberapa aspek mengenai pandangan Legio Mariae terhadap Maria, yaitu sebagai Yang Dikandung Tanpa Noda Dosa, sebagai Bunda dan sebagai Pengantara. Di balik lukisan Yang Dikandung Tanpa Noda ada gambar Hati tak Bercela. Lukisan pertama menggambarkan Maria dalam keadaan tak bernoda, sedangkan yang kedua menunjukkan keadaan tidak berdosa untuk seterusnya.

Di balik Medali Wasiat juga tertera gambar Hati Kudus Yesus dan Hati Maria tak Bernoda. Sejak rapat pertama, para Legioner telah berdoa kepada mereka berdua. Lukisan dua hati, yang satu tertusuk mahkota duri sedang yang satunya lagi tertusuk pedang dengan Salib dan huruf M diatasnya, mengingatkan kita akan penderitaan Kristus dan Maria, yang mendatangkan rahmat, yang dapat disampaikan kepada orang-orang dalam persatuan mereka dengan Maria.

Suatu keadaan yang menakjubkan ialah Yang Mulia Kardinal Verdier, Uskup Agung Paris, justru pada kesempatan seratus tahun memperingati Santa Katarina Laboure berkenan menerima para legioner dan memberikan berkat serta persetujuannya atas pendirian Legio Mariae.

Jadi dapat dikatakan bahwa Medali Wasiat sudah menjadi satu dengan Legio, sedemikian rupa sehingga karya misi Legio sekaligus termasuk karya misi Medali Wasiat. Legio Mariae seolah-olah adalah Medali Wasiat yang hidup, suatu alat sederhana bagi Maria untuk menyampaikan karunia-karunia rahmat kepada dunia.

Sekelompok orang Katolik tertentu, yang ingin menunjukkan bahwa mereka ?maju dan terpelajar? melecehkan Medali ini dan juga medali dan sekapulir lain, dengan menganggapnya sebagai tahyul. Sikap tidak menghormati sakramentali yang diakui Gereja sungguh-sungguh suatu tindakan yang terburu-buru. Lagipula sangat bertentangan dengan bukti-bukti nyata dimana penggunaan medali telah mendatangkan berkat secara dramatis. Bila para legioner didorong untuk menganggap dirinya sebagai tentara, maka demikian juga mereka harus mengganggap medali sebagai bahan amunisi yang khas. Maria akan memberikan kekuatan ganda pada medali yang digunakan oleh anggota legionya. Pada upacara penerimaan anggota Serikat Medali Wasiat, orang menjadi anggota tanpa pendaftaran formal. Seorang anggota baru secara otomatis menerima semua indulgensi Serikat.

?Sebenarnya Maria sendiri yang membawa kerasulan ke dunia ini, yaitu Dia yang datang untuk membawa api di dunia dan menghendaki agar api itu menyala. Tugas Maria tidak dapat dikatakan selesai, jika ia sendiri tidak berada di tengah penampakan lidah api. Lidah api diturunkan oleh Roh Kudus atas para rasul untuk mengobarkan mereka dengan pewartaan sampai akhir zaman. Bagi mereka Pentakosta adalah Bethlehem rohani dari Maria, Penampakan baru bagi Maria, dimana sebagai ibu yang berdiri di palungan Kristus Mistik, ia membuat puteranya terkenal di antara gembala-gembala dan yang lain.?

(Yang Mulia Uskup Fulton Sheen: The Mystical Body of Christ).

SEKILAS MENGENAI SANTA PERAWAN MARIA MEDALI WASIAT

1. Medali Wasiat

Tanggal 18 Juli 1830 jam setengah dua belas malam terbangunlah Sr Katarina. Dengan jelas ia mendengar suara seseorang memanggil-manggil namanya hingga tiga kali, ?Suster Laboure!? Tampaklah seorang anak kecil kira-kira berumur empat atau lima tahun yang berkata kepadanya, ?Mari kita pergi ke gereja, Santa Maria menunggumu.?

Sr Katarina menjawab: "Kita akan ketahuan."

Anak itu tersenyum, "Jangan khawatir, sekarang ini jam setengah dua belas, semua orang sudah tidur ...ayolah, aku menunggumu."

Sr Katarina segera bangkit dan bersiap-siap lalu pergi bersama anak itu yang selalu ada di sebelah kirinya dengan memancarkan sinar yang terang benderang. Pintu kapel yang terkunci langsung terbuka oleh sentuhan anak kecil itu. Sr Katerina amat takjub: di dalam gereja semua lilin dan lampu telah menyala, seolah-olah akan dipersembahkan Misa tengah malam. Anak itu menuntunnya ke altar. Kira-kira setengah jam lamanya Sr Katarina berlutut di sana, ketika tiba-tiba terdengar olehnya gemerisik gaun sutera. Anak itu berbisik, ?Santa Maria ingin berbicara kepadamu?.

Di sebelah altar turunlah Santa Maria. Setelah berlutut di hadapan tabernakel, Bunda Maria duduk di kursi Pastor. ?Dengan satu langkah saja,? kata Sr Katarina, ?aku berada di dekatnya. Tanganku bertumpu di atas lutut Santa Maria. Itulah saat yang paling membahagiakan dalam hidupku.? Santa Maria bercakap-cakap dengan Sr Katarina selama dua jam mengenai tugas yang hendak diberikan Tuhan kepada Sr Katarina serta kesulitan-kesulitan yang bakal dialaminya dalam mengerjakan tugas tersebut. Setelah Santa Maria pergi, anak kecil itu mengantarkan Sr Katarina kembali ke ruang tidur. Terdengarlah lonceng berbunyi dua kali tetapi Sr Katarina tidak dapat tidur lagi.

Tanggal 27 November 1830 jam setengah enam sore, Sr Katarina dan para suster pergi ke Kapel untuk bermeditasi. Samar-samar terdengar gemerisik gaun sutera. Sr Katarina mengarahkan pandangannya ke altar dan di sana ia melihat Santa Perawan Maria berdiri di atas sebuah bola besar. Gaun sutera Maria bersinar kemilau. Kerudung putihnya panjang hingga ke kaki. Di bawah kerudung kepalanya, ia mengenakan sehelai renda untuk mengikat rambutnya. Sebuah bola emas dengan salib di atasnya ada ditangannya. Santa Maria menengadah mohon berkat Tuhan bagi benda itu. Lalu tampaklah pada jari-jemarinya cincin permata yang beraneka warna dan sangat indah. Permata ini memancarkan sinar gilang-gemilang. Limpahan kemulian demikian terang hingga bola besar tempat Maria berpijak tidak tampak lagi. Sr Katarina mengerti bahwa sinar cahaya melambangkan rahmat yang dilimpahkan bagi mereka yang mencarinya; mutiara-mutiara di jari-jemari Bunda Maria yang tidak memancarkan sinar melambangkan rahmat bagi jiwa-jiwa yang lupa memintanya. Kemudian bola itu menghilang. Tangan Maria terentang ke bawah dan terbentuklah suatu bingkai yang lonjong dengan kata-kata mengelilingi kepalanya: ?O Maria, yang dikandung tanpa dosa, doakanlah kami yang berlindung padamu.?

Santa Perawan Maria berkata, ?Inilah lambang karunia yang kulimpahkan kepada orang-orang yang memintanya kepadaku. Suruhlah membuat sebuah medali menurut bentuk ini. Barangsiapa mengenakannya akan menerima karunia yang besar, terutama jika medali ini dikenakan pada lehernya.? Kemudian berbaliklah gambar tersebut dan tampaklah gambar bagian belakang medali. Yaitu huruf ?M? dengan sebuah salib di atasnya. Huruf M terletak di atas sebuah palang di mana di bawahnya terdapat dua buah hati. Hati yang pertama dilingkari mahkota duri - hati Yesus. Hati yang kedua tertusuk pedang - hati Maria. Penjelasannya amat sederhana. Kita umat Kristen telah ditebus oleh Tuhan yang telah disalibkan di hadapan ibu-Nya, Maria Ratu Para Martir. Dua belas bintang mengelilingi penampakan tersebut.

Sr Katarina bertanya bagaimana ia dapat mengusahakan medali itu dibuat. Bunda Maria mengatakan bahwa ia harus pergi kepada Bapa Pengakuannya, Romo Jean Marie Aladel karena: "Ia adalah hambaku." Pada mulanya Romo Aladel tidak dapat percaya akan apa yang dikatakan Sr Katarina, namun demikan, setelah dua tahun berlalu, ia pergi juga kepada Uskup Agung Quelen di Paris. Tanggal 20 Juni 1832 Uskup Agung Quelen memerintahkan agar segera dibuat 2000 Medali.

Ketika Sr Katarina menerima medalinya, ia berkata, "Sekarang medali ini harus disebarluaskan." Devosi kepada medali yang dianjurkan oleh Sr Katarina secara ajaib menyebar dengan cepat. Pertobatan dan mukjizat-mukjizat yang terjadi melalui Medali Santa Perawan Maria tak terhitung banyaknya. Sehingga, nama resmi yang diberikan kepada medali tersebut "Medali dari Yang Dikandung Tanpa Dosa" segera dilupakan orang. Mereka lebih suka menyebutnya Miraculous Medal (Medali Ajaib) atau di Indonesia disebut Medali Wasiat.

Pada tahun 1836 Komisi Khusus yang ditunjuk oleh Bapa Uskup Agung menyatakan bahwa penampakan Santa Perawan Maria di Kapel Biara Puteri-Puteri Kasih di 140 Rue du Bac, Paris, Perancis adalah benar.

Kita pun diberi keistimewaan untuk mengenakan Medali Wasiat. Mengenakannya berarti menerima tawaran perlindungan Bunda Maria yang membawa kuasa Putera-nya, Yesus Kristus ke dalam hidup kita.

"O Maria, yang dikandung tanpa dosa, doakanlah kami yang berlindung padamu.?

2. St. Katarina Laboure

Dapatkah kalian menyimpan rahasia? St. Katarina Laboure dengan semangat kerendahan hati yang luar biasa menyimpan rahasianya selama empat puluh enam tahun. Rahasia apakah yang disembunyikannya?

Zoe Laboure dilahirkan pada tanggal 2 Mei 1806 di Fain-les-Moutiers, Perancis. Ia adalah anak kesembilan dari sebelas orang putera-puteri keluarga Pierre dan Louise Laboure. Kesebelas anak itu terdiri dari delapan orang putera dan tiga orang puteri. Pierre Laboure seorang terpelajar yang menjadi petani yang sukses. Ketika Zoe berusia sembilan tahun, ibunya meninggal dunia. Zoe sangat sedih kehilangan ibunya, ia masuk ke kamarnya, berlutut di bawah patung St. Perawan Maria dan berdoa, ?Bunda Maria, sekarang engkaulah ibuku.?

Tak lama setelah ibunya meninggal, Marie-Louise, kakak perempuan Zoe, masuk Kongregasi Suster Puteri-Puteri Kasih. Oleh karena itu Zoe dan Tonine, adik perempuannya, harus tinggal di rumah untuk membantu ayahnya mengatur rumah tangga dan mengerjakan sawah. Karena tugas-tugasnya itu, Zoe menjadi satu-satunya anak di keluarga Laboure yang tidak mempunyai kesempatan untuk bersekolah. Ia tidak dapat membaca dan menulis.

Sejak Zoe menerima komuninya yang pertama pada tahun 1818, setiap hari ia bangun pukul empat pagi, berjalan beberapa mil untuk mengikuti Misa dan berdoa di gereja. Sama seperti kakaknya, Zoe juga mempunyai keinginan yang kuat untuk masuk biara, tetapi keinginannya itu ditahannya karena tenaganya masih dibutuhkan di rumah.

Ketika usianya sembilan belas tahun Zoe mendapat mimpi yang aneh. Dalam mimpinya, ia sedang berdoa di gereja di Fains. Seorang imam tua mempersembahkan Misa. Ketika Misa telah selesai imam tua itu menunjuk kepada Zoe dengan jarinya. ?Anakku,? katanya, ?Merawat orang-orang sakit adalah perbuatan yang baik. Suatu hari kelak engkau akan datang kepadaku. Tuhan telah memanggilmu untuk itu. Janganlah engkau lupa.?

Pada tahun 1828 Zoe berusia dua puluh dua tahun dan Tonine dua puluh tahun. Sekarang Tonine sudah bisa menggantikan kedudukannya mengurus rumah tangga. Tibalah saatnya bagi Zoe untuk berbicara kepada ayahnya mengenai panggilan hidupnya. Pierre berusaha mencegah keinginan puterinya, maka ia mengirim Zoe ke Paris untuk tinggal bersama Charles, kakaknya yang telah menikah.

Suatu hari Zoe mengunjungi Biara Suster Puteri-Puteri Kasih. Ia melihat lukisan terpampang di dinding. Lukisan seorang imam tua - imam yang mengunjunginya dalam mimpi di Fains. Zoe bertanya siapakah imam itu. ?Pendiri kongregasi kami, Santo Vinsensius de Paul.? (St. Vinsensius de Paul telah wafat 200 tahun yang lalu!) Jadi, itulah rencana Tuhan.

Pada bulan Januari 1830 Zoe menjadi seorang postulan (postulan: masa percobaan, persiapan masuk biara) di Biara Suster Puteri-Puteri Kasih di Catillion-sur-Seine. Tiga bulan kemudian ia dikirim sebagai novis (Novis: biarawan/biarawati yang sedang menjalani masa percobaan sebagai latihan rohani sebelum mengucapkan kaul biara) ke Biara Suster Puteri-Puteri Kasih di Rue de Bac, Paris. Zoe memilih nama Katarina.

Di Biara Rue de Bac Sr Katarina memperoleh penampakan-penampakan luar biasa. Selama tiga hari berturut-turut ia mendapat penampakan hati St. Vinsensius di atas tempat reliqui St Vinsensius disimpan. Di lain waktu ia melihat Tuhan yang Maharahim di depan Sakramen Maha Kudus; penampakan seperti ini terjadi teristimewa pada waktu Misa di mana Tuhan akan menampakkan diri sesuai dengan bacaan liturgi pada hari itu.

Pada tanggal 18 Juli, menjelang Pesta St Vinsensius de Paul yang akan dirayakan keesokan harinya, seorang Suster Superior menceritakan kepada para novis keutamaan-keutamaan Pendiri Kongregasi mereka serta membagikan kepada mereka masing-masing sepotong kain dari jubah St. Vinsensius. Dengan sungguh-sungguh Sr Katarina memohon bantuan doa St Vinsensius agar ia diperkenankan memandang Bunda Allah. Kemudian Sr Katarina pergi tidur.

Tengah malam Sr Katarina dibangunkan oleh seorang ?anak kecil yang bercahaya? yang membimbingnya ke kapel biara. Di sanalah Santa Perawan Maria datang dan bercakap-cakap kepadanya. Dalam suatu penampakan yang lain Sr Katarina melihat Bunda Maria berdiri di atas bulatan seperti bola dengan cahaya memancar dari kedua belah tangannya. Di bawahnya terlihat tulisan: ?O Maria, yang dikandung tanpa dosa, doakanlah kami yang berlindung padamu.? Bunda Maria meminta agar medali dengan gambar tersebut dibuat dan dogma Yang Dikandung Tanpa Dosa dihormati. Siapa saja yang mengenakan medali tersebut akan menerima rahmat dari Yesus melalui doa-doa ibu-Nya.

Demikianlah Medali Wasiat dibuat dan devosi disebarluaskan. Dalam waktu yang singkat banyak orang di seluruh dunia telah mengenakannya. Namun demikian, kecuali Bapa Pengakuannya, tidak seorang pun termasuk para suster Puteri-Puteri Kasih, yang mengetahui bahwa kepada Sr Katarina-lah Bunda Allah menampakkan diri.

Kita cenderung mengharapkan banyak pujian dan ketenaran jika memperoleh keistimewaan dari surga seperti itu. Namun tidak demikian halnya dengan Sr Katarina, ia malahan menjauhkan diri dari semua itu. Ia ingin dilupakan dan tidak diperhatikan agar dapat melaksanakan tugas-tugas sederhananya sebagai seorang biarawati Puteri Kasih. Menurut para suster di biaranya, Sr Katarina adalah seorang suster yang sederhana. Seorang yang pendiam, yang kadang-kadang menjadi bahan gurauan serta olok-olok karena sikapnya yang terlalu patuh. Setelah penampakan Santa Perawan Maria kepadanya, Sr Katarina melewatkan empat puluh lima tahun hidupnya sebagai biarawati dengan merawat mereka yang tua dan yang sakit di Rumah Lansia Enghien di Paris. Ia menyimpan semua rahasianya dengan bahagia, ia hanya tertarik untuk melayani Tuhan sebanyak yang ia mampu.

Pada tahun 1876 Sr Katarina merasakan adanya keyakinan batin bahwa ia akan meninggal sebelum akhir tahun berlalu. Menjelang kematiannya, Sr Katarina berusaha melaksanakan permintaan St Perawan Maria yang terakhir yaitu agar sebuah patung Maria dibuat. Baru pada saat itulah Sr Katarina membuka rahasianya dan menceritakan segala sesuatunya kepada Suster Superior (Superior: Pembesar Biara).

Pada tanggal 31 Desember 1876 Sr Katarina meninggal dunia. Suster Superior menceritakan segala rahasia yang telah dipendam demikian lama oleh Sr Katarina kepada para suster Puteri-Puteri Kasih, yang dengan terkagum-kagum baru menyadari bahwa seorang kudus telah tinggal bersama mereka. Pemakaman Sr Katarina adalah pemakaman yang penuh dengan pesta dan sukacita. Segala lagu sedih dan dukacita diganti dengan lagu-lagu gembira dan ucapan syukur: bagi Sr Katarina, bagi Santa Perawan Maria dari Medali Wasiat, dan bagi Allah yang demikian Mengasihi kita.

Pada tahun 1933, lima puluh tujuh tahun setelah St Katarina dimakamkan, makamnya dibongkar. Mereka mendapati jenasah St Katarina dalam keadaan segar sama seperti pada saat ia dimakamkan. Matanya tetap biru dan indah, kedua belah tangan dan kakinya lemas dan tidak kaku, seolah-olah ia sedang tidur. Jenasah St Katarina dibaringkan dalam peti kaca dan ditempatkan dekat altar Kapel di 140 Rue du Bac, Paris, tempat di mana Bunda Maria menampakkan diri kepadanya.

Jika kalian mengunjungi Kapel Penampakan, kalian dapat memandang wajah serta bibir St Katarina; bibir yang telah menyimpan rahasia besar selama empat puluh enam tahun, rahasia yang telah menggoncangkan dunia.

Pada tanggal 27 Juli 1947 Sr. Katarina dinyatakan sebagai santa oleh Paus Pius XII. Pestanya dirayakan pada tanggal 28 November, sehari setelah Pesta Santa Perawan Maria dari Medali Wasiat.

3. Sekilas Dogma Maria yang Dikandung Tanpa Noda

Sesungguhnya, kebingungan atas dogma SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa (= Immaculata) bukanlah hal yang jarang terjadi. Sebagian orang secara salah beranggapan bahwa dogma tersebut berhubungan dengan Bunda Maria yang mengandung Kristus dari kuasa Roh Kudus. Sesungguhnya, dogma SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa adalah keyakinan ?? bahwa perawan tersuci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal? (Paus Pius IX, Ineffabilis Deus).

Dalam mempelajari sejarah seputar keyakinan ini, kita melihat keindahan Gereja yang didirikan oleh Kristus, yang para pengikutnya yang setia berjuang untuk memahami dengan lebih jelas misteri keselamatan. Perjuangan ini dibimbing oleh Roh Kudus, yang disebut Yesus sebagai ?Roh Kebenaran?, yang ?akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu?dan ?akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran? (bdk. Yoh 14:17, 14:26, 16:13).

Sebagian dari ?perjuangan? atas dogma Immaculata adalah tidak adanya kutipan Kitab Suci yang spesifik serta jelas dan gamblang tentangnya. Namun demikian, referensi dalam Injil mengenai Bunda Maria dan perannya dalam misteri keselamatan mengisyaratkan keyakinan ini. Dalam Injil St. Lukas, kita mendapati ayat indah tentang Kabar Sukacita, di mana Malaikat Agung St. Gabriel mengatakan kepada Maria (dalam bahasa kita), ?Salam Maria, penuh rahmat. Tuhan sertamu.? Sementara sebagian ahli Kitab Suci berdebat atas ?seberapa penuhnya rahmat,? kesaksian St. Gabriel secara pasti menyatakan kekudusan Bunda Maria yang luar biasa. Apabila orang merenungkan peran Bunda Maria dalam kehidupan Kristus - baik inkarnasi-Nya, masa kanak-kanak-Nya, ataupun penyaliban-Nya - pastilah ia sungguh luar biasa dalam kekudusan, sungguh ?penuh rahmat? dalam menerima serta menggenapi perannya sebagai Bunda Penebus, dalam arti ?Bunda? yang sepenuh-penuhnya. Sebab itu, kita percaya, bahwa kekudusan yang luar biasa, yang penuh rahmat ini diperluas hingga saat awal permulaan kehidupannya, yaitu perkandungannya.

Secara praktis, jika dosa asal diwariskan melalui orangtua, dan Yesus mengambil kodrat manusiawi kita dalam segala hal kecuali dosa, maka Maria haruslah bebas dari dosa asal. Pertanyaan kemudian muncul, ?Bagaimana mungkin Kristus adalah Juruselamat Maria?? Sesungguhnya, banyak perdebatan mengenai SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa dalam abad pertengahan berfokus pada masalah ini. Duns Scotus (wafat 1308) menawarkan satu solusi dengan mengatakan, ?Maria lebih dari semua orang lain membutuhkan Kristus sebagai Penebusnya, sebab ia pastilah mewarisi Dosa Asal ? jika rahmat sang Pengantara tidak mencegahnya.? Dengan mengutip Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Katekismus Gereja Katolik menambahkan, ?Bahwa Maria `sejak saat pertama ia dikandung, dikarunia cahaya kekudusan yang istimewa', hanya terjadi berkat jasa Kristus: `Karena pahala Puteranya, ia ditebus secara lebih unggul'? (no. 492). Pada pokoknya, karena Maria dipilih untuk berbagi secara intim dalam kehidupan Yesus sejak saat ia dikandung, Ia sungguh adalah Juruselamatnya sejak saat perkandungannya.

Mungkin salah satu alasan mengapa diskusi mengenai Dogma Immaculata ini berkepanjangan adalah karena Gereja Perdana dilarang dan di bawah aniaya hingga tahun 313, dan kemudian harus menyelesaikan berbagai macam masalah seputar Yesus Sendiri. Refleksi lebih jauh mengenai Bunda Maria serta perannya muncul setelah Konsili Efesus (thn 431) yang dengan segenap hati menegaskan keibuan ilahi Maria dan memberinya gelar, ?Bunda Allah? sebab ia mengandung dari kuasa Roh Kudus dan melahirkan Yesus yang adalah pribadi kedua dalam Tritunggal Mahakudus, yang sehakikat dengan Bapa. Beberapa Bapa Gereja Perdana, termasuk St. Ambrosius (wafat 397), St. Efrem (wafat 373), St. Andreas dari Crete (wafat 740) dan St. Yohanes Damaskus (wafat 749) merenungkan peran Maria sebagai Bunda, termasuk disposisinya yang penuh rahmat, dan menulis tentang ketakberdosaannya. Suatu pesta guna menghormati SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa telah dirayakan di Gereja Timur setidak-tidaknya sejak abad keenam.

Sementara waktu berlalu, dilakukanlah pembahasan lebih lanjut mengenai keyakinan ini. Pada tahun 1849, Pius IX meminta pendapat para uskup di seluruh Gereja mengenai apa yang mereka sendiri, para klerus, dan umat rasakan mengenai keyakinan ini dan apakah mereka menghendakinya agar ditetapkan secara resmi. Dari 603 uskup, 546 memberikan tanggapan positif tanpa ragu. Dari mereka yang menentang, hanya lima yang mengatakan bahwa doktrin tersebut tidak dapat ditegaskan secara resmi, 24 tidak tahu apakah ini adalah saat yang tepat, dan 10 hanya menghendaki agar mereka yang menentang doktrin tersebut dinyatakan salah. Paus Pius juga melihat kelesuan rohani dalam dunia dimana kaum rasionalis sekolah filsafat telah menyangkal kebenaran dan segala sesuatu yang adikodrati, di mana revolusi-revolusi mengakibatkan gejolak sosial, dan revolusi industri mengancam martabat para pekerja dan kehidupan keluarga. Oleh sebab itu, Paus Pius menghendaki dibangkitkannya kembali kehidupan rohani umat beriman dan beliau melihat tidak ada cara yang lebih baik selain dari menampilkan kembali teladan indah Bunda Maria dan perannya dalam sejarah keselamatan. Maka, pada tanggal 8 Desember 1854, Pius IX menegaskan secara resmi dogma SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa dalam bulla ?Ineffabilis Deus?.

Akhirnya, menarik juga disimak bahwa dalam beberapa penampakan Bunda Maria, Santa Perawan sendiri menegaskan dogma SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa. Pada tanggal 9 Desember (tanggal yang ditetapkan sebagai Perayaan SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa di Kerajaan Spanyol) pada tahun 1531 di Guadalupe, Bunda Maria mengatakan kepada Juan Diego, ?Akulah Perawan Maria yang tak bercela, Bunda dari Allah yang benar, yang melalui-Nya segala sesuatu hidup?? Pada tahun 1830, Bunda Maria mengatakan kepada St. Katarina Laboure agar dibuat Medali Wasiat dengan tulisan, ?Maria yang dikandung tanpa noda dosa, doakanlah kami yang berlindung padamu.? Terakhir, ketika menampakkan diri kepada St. Bernadete di Lourdes pada tahun 1858, Bunda Maria mengatakan, ?Akulah yang Dikandung Tanpa Noda Dosa.?

Dalam suatu homili pada Perayaan SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa yang disampaikan pada tahun 1982, Paus Yohanes Paulus II menulis, ?Terpujilah Allah Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang memenuhi engkau, ya Perawan dari Nazaret, dengan segala rahmat rohani dalam Kristus. Dalam Dia, engkau dikandung tanpa noda dosa! Telah dipilih sejak semula untuk menjadi Bunda-Nya, engkau ditebus dalam Dia dan melalui Dia lebih dari segala manusia lainnya! Dilindungi dari warisan Dosa Asal, engkau dikandung dan datang ke dalam dunia dalam keadaan rahmat. Penuh rahmat! Kami mengagungkan misteri iman yang kami rayakan pada hari ini. Pada hari ini, bersama dengan segenap Gereja, kami memuliakan Penebusan yang dilaksanakan atasmu. Partisipasi yang teramat luar biasa dalam Penebusan dunia dan manusia, diperuntukkan hanya bagimu, semata-mata hanya bagimu. Salam O Maria, Alma Redemptoris Mater, Bunda Penebus yang terkasih.?